Arab made in Semarang

Saya orang Jawa Tengah asli, tepatnya asli Semarangan, apalagi ortu saya menurut istilahnya adalah peknggo ( bener gini yah nulisnya ? ) alias di pek tonggo ( artinya : diambil tetangga atau dapet tetangganya sendiri ), jadi enak kalau pas kumpul-kumpul di hari Raya, bisa hemat ongkos transport gitu loh. Biasanya sih kalo pas hari Raya Idul Fitri, mobil diparkir di depan rumah eyang dari pihak mamah saya, setor muka sebentar ( absen istilahnya ), cipika cipiki ( cium pipi kanan, cium pipi kiri ) sepupu dan keponakan, dan salim ( cium tangan eyang, pakde, bude, om, dan tante ). Trus langsung deh cabut ke rumah eyang dari pihak papah yang rumahnya paling hanya berjarak 100 meter, disana pun juga melakukan ritual yang sama….ditambah peluk-pelukan dan tangis-tangisan ala pilem india ( sorry yah pah, tapi emang gitu kan? Keluarga nya papah emang suka rada-rada dramatis melankolis, tapi ok juga sih, agar lebaran lebih bermakna ), tapi tradisi sungkeman malah dilakukannya di keluarga eyang dari pihak mamah ( karena lebih besar keluarganya, sungkeman ini urut dari anak pertama dengan cucu-cucunya sekaligus sampai anak bontot ), pas giliranku yang sungkeman sering diketawain nih karena bahasa kromo saya terbatas banget, jadi sebelum giliran saya, tanya-tanya dulu ama sepupu, “opo to boso kromone njaluk maaf?” ( wah kalau moko alias bahasa jawa kasar, saya jagonya ), sepupu saya bilang,”Nyuwun pangapuntennipun Yang….” ( hoyoh, susah to…), back to pembahasan asal-usul saya, dan tau gak sih bagaimana tipikal muka orang Jawa Tengah? Sepertinya semua yang serba standar alias sedang-sedang aja, seperti mata yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tapi 95 % warna bola matanya pasti hitam, dan 5 % diantaranya berbola mata coklat ( yang kata saya adalah yang termasuk golongan beruntung, karena tidak perlu boros beli soft lens warna coklat >> nyindir yang nulis nih ), ukuran hidung juga seperti itu yang rata-rata standar, tingkat kemancungan hidung yang rata-rata ( rata = pesek ? hehehe ), bibir yang rada tipis kali ya, karena orang Jawa Tengah khususnya wanita kan rada cerewet, boros bicara tapi pelit soal urusan uang ( waa, saya banget gitu loh ), terus bentuk wajah yang bulat ( si penulis terpengaruh banget ama bentuk wajah RA Kartini yang tipikal orang Jawa Tengah banget ), kalau mengenai bentuk alis, saya gak berani jamin, karena sekarang dah zamannya cabut/cukur alis di salon-salon. Sekali lagi perhatian loh buat semuanya, standar ini hanya berdasarkan pendapat saya aja ( saya belum sempet melakukan investigasi/penelitian secara mendalam, tokh, ini bukan tulisan ilmiah ), so kalau ada yang keberatan, ya silahkan menulis di blognya masing-masing, hehehe.  Tapi anehnya dengan kondisi asal usul saya yag asli Jateng, saya malah sering dikira orang Arab atau

Pakistan

atau Palestina ( wah, negara-negara Timur Tengah gitu deh ), pernah juga dikira

India

. One day teman-teman dari pengajian yang dulu saya ikuti malah dengan pede menebak kalau saya dari Aceh. Kalau tebakan bahwa saya berasal dari Aceh, mungkin juga dikarenakan nama saya yang ampir mirip dengan pahlawan wanita dari Aceh, Cut Meutia ( punya nama unik, malah suka buat hati deg-degan waktu SD dulu, karena guru-guru dulu suka tertarik ama nama yang unik buat dipanggil duluan untuk disuruh maju ke depan ). Padahal kalau dirunut-runut, saya tidak ada sangkut pautnya ama negara Timur Tengah ( memang sih negara saya tercinta ini merupakan negara pemasok TKW terbesar ke negara Timur Tengah ). Saya jadi inget kisah saya ama sopir kendaraan yang disewa ama fakultas S1 saya dulu waktu mengikuti acara KBM ( kemah bakti mahasiswa ) di desa Ampel, Boyolali, kebetulan saya dan salah seorang teman saya sama-sama duduk di sebelah pak sopir dengan posisi saya yang di tengah. Bayangin saja, kira-kira 2 – 2,5 jam perjalanan antara Boyolali – Semarang, saya dan pak sopir terlibat pembicaraan dengan topik yang hanya membahas muka saya yang katanya kayak wong Arab ( gak banget gitu loh topiknya ), padahal udah dijelaskan kalau saya bener-bener asli Semarang, beliaunya ngotot kalau saya itu pasti ada keturunan Arab ( dah salah, ngotot pula ), “Iya ah, mbak’e ki mesti ono turunane arab to..nek ora

pakistan

, irungmu kuwi loh mbak, rak iso kecolong, awak e barang yo gedi duwur” >> paling inget saya, omongannya yang ini, sampai logat-logatnya si bapak sopir. Padahal asal mau tau aja, temen yang disebelah saya tadi itu malah yang mirip beneran ama Arab ( emang ada turunannya Arab ), tapi dia luput dari perhatian si Bapak karena asyik molor. Kemudian yang paling berkesan adalah selama saya di

Malang

, rata-rata orang yang baru saya temui semuanya bertanya,”Ibu / mbak ada keturunannya Arab yah ?” , hal ini pun menular ke tanggapan orang-orang terhadap Baby,”Wah, keturunan Arab ya kayak ibu / maminya”. Sampai-sampai saya pernah berkata terhadap seseorang di

Malang

yang juga mengira sama seperti yang di atas,”Emang orang

Malang

jarang lihat orang Arab yah, muka gini kok dibilang kayak Arab, di Malang ada Kauman gak sih?” ( Kauman saya pikir tempat berkumpulnya etnis Arab kali yah ). Sepupu saya malah bilang kalo saya ini Koja ( alias orang asli/lama

Semarang

yang keturunan Arab ), Pakde saya bilang kalo saya ini kayak

India

karena raut muka dan kulit sawo matang saya. Ya udah apa pun anggapan atau pendapat orang, tetap saya terima dengan besar hati, dan dalam hati saya juga ikut seneng, karena saya sendiri suka / tertarik kalau melihat orang keturunan Arab ( yang ternyata kalo di Malang banyak sekali jumlahnya ), senang karena bentuk hidung mereka yang super mancung, alis mata tebal, body semok ( walah bahasane…) dan mata indah yang juga satu paket ama bulu mata lentik mereka ( Subhanallah banget yah Allah yang menciptakan ras Arab ), saya pernah membaca, hanya saja saya dah lupa sumbernya, bahwa ras yang paling tampan/cantik sedunia adalah bangsa Libanon dan Israel ( eh, malah perang sekarang 2 negara itu ). However, apapun yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, walau misalnya tetap aja muka yang udah dinilai sempurna ama orang kebanyakan, masih saja di utak atik, seperti kurang mancunglah hidungnya ( sampai harus dijepit sama jepitan jemuran >> duhh…sengsaranya ), kurang besarlah matanya >> kalo mau besar matanya, tinggal pake lensa cembung, pasti deh jadi kayak matanya kodok yang plolar plolor ( istilah keluarga saya besar nih, kalau lihat orang yang matanya belok tapi pas matanya yang belok lihat ke segala arah ), semua yang telah dianugerahkan Allah terhadap kita harus kita syukuri karena mungkin ini yang terbaik buat kita. Mungkin saja, Allah punya maksud tersembunyi pada saya yang dianugerahi wajah yang mengkhianati bangsa

Indonesia

ini khususnya suku Jawa Tengah ( woloh…dramatisir mbak’e ), hanya saja saya belum ketemukan maksud tersebut, ya minimal bisa membuat saya tidak krisis pede ( jujur, saya orangnya rada minderan ). Tapi kalau pun saya berwajah mirip  Cina, Bule atau Afrika, tetap tidak merubah hati saya yang pribumi asli, tidak merubah saya yang asli Denok Semarangan ini, tidak merubah saya yang anaknya ortu saya, lucu aja kali ya muka bule tapi logatnya jawa moko kayak saya, dan yang terpenting, tidak mengurangi rasa syukur saya kepada Allah, karena saya jadi manusia yang berakal dan berhati nurani ( untung bukan jadi keledai gitu loh ). Akhir cerita, saya mohon maaf kalo dirasa tulisan ini kurang berbobot atau unvaluable untuk dibaca ( nah loh, krisis pede dalam menulis muncul lagi ) sehingga mungkin ada yang merasa buang-buang waktu untuk membacanya, tapi saya yakin pasti masih ada orang yang merasa tulisan ini bisa dinikmati karena udah cengar cengir aja pas baca ( kali ini krisis pede saya imbangi dengan kepedean saya ).

Leave a Reply