Merenung di Hari Kemerdekaan

Habis melakukan ritual Maghriban, saya sempatkan menonton televisi sembari menunggu Isya’, pencet-pencet remote untuk mencari acara yang menarik, tapi hanya ada sinetron yang penuh makian dan tangisan ( yaks ! ), tidak sengaja di satu televisi swasta, saya melihat ada banyak orang berlarian di sebuah stadion bola, saya baca tagline nya, SUPORTER BONEK RIBUT DI KEDIRI, JATIM. Karena mereka tidak terima kesebelasannya kalah, ngamuklah mereka, tidak urung polisi-polisi yang berjaga disana dibuat kewalahan menghadapi bonek-bonek ini. Kalau kita melihat di satu sisi, pasti kita berfikir bahwa apa yang dilakukan mereka sungguh sangat konyol dan bodoh, buat apa coba mereka mati-matian membela kesebelasan mereka, memang kalau menang pun, mereka kebagian hadiahnya ? Apalagi menurut saya, permainan sepakbola yang paling menentukan adalah faktor luck, kalau gak percaya, kenapa Brazil bisa gak masuk final dalam piala dunia 2006 lalu ? Apa masih berfikir kalau faktor teknik yang paling menentukan ? gak banget gitu loh… Terus kalau kesebelasan mereka kalah, mereka malah bingung, bingung karena gak ada yang bisa menjawab kenapa kalah, trus langsung nyalahin pemainnya ( Napa sih si X itu dimasukkan dalam tim inti, mainnya jelek, bawa sial tuh orang ), kemudian nyalahin wasitnya ( wah wasit curang, doyan suap ), lama-lama nyalahin bola dan gawangnya ( bolanya sih kurang bunder ( @#@#@!!! ) kalau gak gawangnya juga tuh gak ukuran internasional >> kalau pendapat ini hanya modifikasi penulis, hehehe ). Keluar deh tuh hujatan dan makian, sampai-sampai isi bonbin dan sampai isi celana dalam keluar semua. Sampai akhirnya suasana makin panas dan memancing emosi mereka untuk berbuat anarkis, emosi itu sudah mereka bawa dari rumah, yang sebelum menonton pertandingan emosi tersebut sudah ada dalam diri mereka, emosi karena himpitan ekonomi misalnya, tau kan kepanjangan dari bonek apa, "Bondo Nekat", alias gak punya uang pun nekat nonton. Gak tau caranya gimana, asal bisa nonton aja, kadang untuk berangkat dan pulang dari stadion pun mereka mencegat mobil bak terbuka sampai truk untuk ditumpangi gratisan. Kesannya kok ngenes banget yah…Apalagi kalau dibandingkan dengan bonek ( eh bonek bukan yah ? ) atau suporternya Inggris alias Holligans, tim mereka menang, mereka masih bisa minum bir gratis di jalan-jalan untuk merayakan kemenangan tim mereka. Kalau disini ? apa sih yang gratis di Indonesia?! buang air aja bayar, yah mungkin setelah ada tulisan ini ( waks…emang ngaruh ? ), akan ada wejang jahe gratis untuk bonek-bonek ini sekaligus tempe mendoannya. Sudah gitu kalau timnya kalah, bonek-bonek trus ngamuk, wah dikejar-kejar polisi deh deh mereka, ditendang ( kayaknya sih sakit banget nendangnya pas di tivi ), dipukul pake pentungan, ditimpuk kepalanya, kemudian di "asu-asu" in. Yah kayaknya udah gak ada harga dirinya lagi para bonek , di sisi lain saya merasa kasihan dan miris, walo mereka bonek kan mereka masih manusia ( halah, seurius banget saya ini ). Tapi kan gak mungkin juga menyalahkan para polisi yang kesannya emang semena-mena banget, mereka juga tidak memilih untuk berada pada saat itu dan di lokasi tersebut. Mereka hanya manut pada perintah atasan, tugas mereka juga berat, gaji mereka juga kecil ( dibandingin manajer kali ye …) sepertinya juga wajar kalau mereka cepat emosi dan rasanya emosi tersebut bisa terlampiaskan dengan kepuasan mereka dalam menghajar bonek-bonek tersebut. Wah, serem juga yah, tapi memang seperti itulah kenyataan yang tergambar di tivi. Bahkan ada salah satu bonek yang menangis karena dihajar oleh polisi ( garang namun sifat cengeng tetep ada ), ya antara wajar tidak wajar, mungkin karena dia merasa harga dirinya sudah tercabik-cabik, ya gila aja, karena mungkin di rumah dia adalah seorang bapak yang dihormati anak-anaknya, eh di lapangan bola malah dihajar habis-habisan sama polisi. Hm..setelah saya merenung di atas kasur, keadaan seperti itu pasti akan terus ada, selama belum ada kemakmuran yang merata di Indonesia, lingkaran setan lah istilahnya. Bahkan setelah 61 tahun Indonesia merdeka ini, masih banyak juga yang makan nasi aking ( nasi bekas gitu deh ), pengungsi yang masih dibiarin aja, banyak anak yang gak bisa sekolah ( bukan putus sekolah aja tapi banyak juga yang tidak merasakan sekolah ), banyak pengangguran ( termasuk saya saat ini ), dan masih banyak lagi kisah-kisah kelam Indonesia di balik pesona dunia selebriti. Semuanya itu secara langsung dan tidak langsung akan berdampak pada tingginya tingkat penganiayaan yang dikarenakan luapan emosi yang meledak-ledak. Kapan yah Indonesia akan benar-benar merdeka. Tidak hanya merdeka dengan hitungan waktu/umur secara tulisan dan tidak hanya merdeka dari berapa kalinya sang saka merah putih dikibarkan di depan istana merdeka, tidak hanya merdeka yang bisa dilihat dari iklan-iklan kemerdekaan RI yang dibiayain dari perusahaan rokok ( kan dari iklan tersebut, kayaknya Indonesia itu firdaus banget, negeri yang emang sih indah pemandangannya, tapi manusianya yang berada di Indonesia ini apa seindah pemandangannya ? ). Kapan yah Indonesia bener-bener merdeka, apalagi merdeka dari kebrutalan, kemiskinan, kebodohan, keserakahan dan lain sebagainya…itulah yang sebaiknya kita renungkan lebih dalam lagi, saya kira merenung di rumah lebih baik daripada makan-makan di tirakatan…..

2 Responses to “Merenung di Hari Kemerdekaan”

  1. Zawa Says:

    yuhu……. happy merdeka hehehehehehe… mbak tia ikut lomba apaan? balap karung apa makan krupuk hihihihihi… :D

  2. Meytia Says:

    To Zawa :
    Wah gak ikutan apa2, kampungku kurang guyub deh….di kompleks sih wa

Leave a Reply